Berawal sekitar 14 abad yang lalu disebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang dikelilingi oleh padang pasir dan pegunungan batu, yang jangankan tumbuhan untuk hidup disana, rerumputan kecilpun sulit untuk ditemukan. Karena tempat yang sangat strategis kota ini sangat ramai dikunjungi orang-orang sehingga masyarakat yang hidup disanapun menjadi makmur. Akan tetapi kemakmuran yang mereka dapat tidak semata-mata menjadikan mereka ingat dan bersyukur kepada yang telah memberikan kepada mereka kemakmuran dan anugerah tersebut.
Kemerosotan moral, pembunuhan, perang, perbudakan, perampokan merupakan hal yang biasa yang terjadi di zaman itu. Anak perempuan yang baru lahir dikubur hidup-hidup, perempuan tidak ada harganya sama sekali, yang kuat menindas yang lemah dan menjadikan patung-patung berhala sebagai tuhan mereka, dan melupakan ajaran yang telah dibawa oleh nenek moyang mereka Ibrahim Alaihi Salam, untuk hanya menyembah satu Tuhan yaitu Allah. Hal-hal seperti ini terjadi dimana saja pada saat itu.
Disaat kebuntuaan ini terus merajarela datanglah seorang pembawa cahaya, ibarat bintang yang menghiasi pekatnya malam. Ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah bintang terindah yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya didalam dada, dan ialah Rosulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 570 M, pada saat itu kota Makkah diserang oleh pasukan tentara yang mengendarai gajah yang dipimpin oleh seorang yang bernama Abrahah, mereka datang ke kota Makkah dengan maksud untuk menghancurka Ka’bah. Akan tetapi Allah berkehendak lain, untuk memuliakan kelahiran utusannya ke dunia, Allah mengirimkan tentaranya yang berupa ribuan ekor burung yang membawa batu yang berasal dari neraka untuk menghancurkan tentara abrahah tersebut. Sehingga tahun tersebut disebut tahun gajah.
Diriwayatkan dari Imam Shihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di dalam kitabnya “An-ni’matul Kubraa ’alal Aalam” dihalaman 61.
Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabi’ul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sudah semakin mendekati, Allah Subhanahu Wa Ta‘ala semakin melimpahkan bermacam anugerahNya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pada Malam Ke-1 (Pertama) :
Allah Subhanahu Wa Ta‘ala melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga beliau (ibunda Nabi Muhammad) Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Pada Malam Ke-2 :
Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
Pada Malam Ke-3 :
Datang seruan memanggil “Wahai Aminah... Sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.”
Pada Malam Ke-4 :
Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para Malaikat secara nyata dan jelas.
Pada Malam Ke-5 :
Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah Ibrohim ‘Alaihi Salam.
Pada Malam Ke-6 :
Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
memenuhi alam semesta.
No comments:
Post a Comment